The chosen One
Because I BELIEVE, ONE Man Can Change The World.

Uncle Tua Itu

Labels: , , , , ,
-Ko tingu ba tu urang tua. Punya kesian.

Si Dan melihat sekejap. Seorang tua berjalan perlahan melintasi gerai kami. Dengan selamba, sambil memikul bag pack hitam yang usang.

- Kalau saya tu, nda saya kasi bapa sa jalan-jalan seturang begitu. Sudahlah bertungkat saja.

- Ada bah kali anak-anak dia berjalan-jalan di sekitar sini. Si Dan cuba membetulkan cara fikir saya.

- Yalah, tapi janganla ba kasi biar bapa derang berjalan-jalan begitu seturang. Kesianlabah.

Di depan kami, seorang lelaki tua yang rambutnya sudah putih malah jarang-jarang sudah, bertongkat kaki empat. Entah apa nama tongkat begitu. Berjalan perlahan sambil memerhati keadaan sekeliling. Berhenti sekali-sekali, mungkin mengambil nafas. Orang belum ramai lagi jadi kami dapat melihat lelaki tua itu berjalan perlahan melintasi booth kami kemudian berjalan lagi sehingga hilang dari pandangan. Matahari mula menunjukkan kuasanya.

***

- Adoi, punya ramai orang ni... Panas lagi. Saya mengeluh sambil mengipas muka.
- Ko tingu ba tu urang tua tadi... Si Dan tiba-tiba menegur saya. - Ko tingu apa dia pigang?

Saya memerhati. Lelaki tua yang pagi tadilah. Sekarang sudah memegang plastik warna merah yang besar. Dia perlahan-lahan melintasi booth kami sekali lagi. Tapi pelanggan terlalu ramai. Tidak dapat tengok sangat lelaki tua itu.

***

- Nah, ko tingu apa lagi dia pigang tu. Si Dan tiba-tiba menegur saya lagi.

Lelaki tua itu, buat kali ketiga, berjalan perlahan sekali lagi melintasi booth kami. Berjalan santai. Perlahan. Dengan tambahan satu lagi beg plastik besar ditangan.

Kali ini, saya melihat dengan perlahan juga....

Sedangkan dia berjalan di tengah panas, perlahan, bertongkat sambil memegang dua beg plastik besar, dengan bag pack hitam di belakang lagi, saya, di bawah khemah yang dilindungi dari pancaran matahari, mengeluh kepanasan dan kepeluhan dan kepenatan, seakan sangat tidak logik bila melihat situasi lelaki tua itu berbanding saya. Dia berjalan perlahan seperti mahu menunjukkan sesuatu. Kemudian hilang di kalangan banyak orang.

Terus saya bangun dari tempat duduk:
"t-shirt buliba kalau kau.. beg.. keychain... sticker... buliba kalau kau!"

(Terima kasih uncle... uncle suda kasi sedar saya banyak hal!)

© Copyright Anak Jagung
5 Comment(s):

Kita selalu cakap macam tu kan? kesian dia..but actually to be pitty is ourselves. The uncle have a faith in doing that plus the passion..God let us see in different way to 'wake' us.


Dan - Pelakon dalam cerita ini... Betul ni saya!

Rupa-rupanya dia pun berabis shopping. Banyak pula pendapatan dia di beg2 plastik.... haishhh...


@Alv0808, couldn't agree more.. it's like a wake call for me...


@Dan, hahaha... i bet you are :)


We often learn new things about life through circumstances like this....
It's like an eye opener..


From The Barait of Anakjagung

Dear Readers,
Thank you for visiting my blog. I do hope that your visit is a fun one. Please leave your comment in regards of my post or just say hi in my Chat Box. Don't forget to leave your link so that I can pay you a visit too. Thank you so much.

Most of the postings here are original therefore, publishing/printing/production or of any means of using the materials in this blog without a formal written consent from Anak Jagung is strictly prohibited. Where some are not, links and sources are stated.

Best viewed using Mozilla Firefox


© Copyright Anak Jagung 2003 - 2014. All rights reserved.

About Me

My photo
A blogger who blogs when he feels like it. A teacher who is learning to be a better one everyday. A person who likes photography but is not good at shutter speed and what the heck is the rules of third? A man who believes that you can change the world.

Chatter Box

Followers


Slider

The Best Links

Get more followers